4.1 Evaluasi Integrasi Intervensi Gizi dan Tata Kelola Layanan Puskesmas
Evaluasi terhadap implementasi intervensi spesifik pencegahan stunting di puskesmas menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada ketersediaan paket bantuan nutrisi, melainkan sangat dipengaruhi oleh kesiapan manajerial dan ketersediaan sumber daya manusia kesehatan di tingkat primer [1]. Kendala pada dimensi input, seperti belum terpenuhinya formasi tenaga gizi profesional di unit layanan, berpotensi menurunkan efektivitas pemantauan tumbuh kembang serta tindak lanjut kasus balita yang mengalami gangguan pertumbuhan [1]. Pada saat yang sama, kemitraan antara puskesmas dan kader posyandu merupakan modal sosial fundamental dalam memobilisasi kehadiran keluarga sasaran dan menyebarluaskan edukasi gizi seimbang [2]. Meskipun demikian, terdapat tantangan nyata terkait rendahnya pemahaman nutrisi pengasuh, keterbatasan waktu akibat beban pekerjaan, serta kelemahan dalam komunikasi berjenjang dan mekanisme monitoring berkelanjutan [2]. Ketiadaan tindak lanjut yang konsisten setelah penimbangan bulanan dapat menurunkan retensi partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, penguatan kapasitas teknis puskesmas harus dipadukan dengan pembinaan terstruktur bagi kader kesehatan dan sinergi bersama pemerintah desa guna memastikan intervensi gizi berjalan secara berkesinambungan [1], [2].