4.1 Karakter Padat Modal Industri Pemurnian dan Respons Pasar Kerja
Sintesis terhadap temuan empiris menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi nikel berhasil mengakselerasi transformasi struktural, namun menghasilkan ketimpangan elastisitas penyerapan tenaga kerja lokal. Di satu sisi, kajian di wilayah Luwu Timur menunjukkan bahwa hilirisasi memacu pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto melalui akumulasi modal dan peningkatan nilai tambah, kendati dampak limpahan penyerapan tenaga kerja tetap terbatas ("The Impact of Nickel Downstreaming on Economic Growth in East Luwu Regency for the 2018–2024 Period", 2026). Temuan ini sejalan dengan bukti empiris di Konawe yang membuktikan bahwa ekspansi industri pengolahan nikel mengubah lanskap perekonomian daerah menuju dominasi sektor sekunder, tetapi laju penyerapan tenaga kerja manufaktur tidak sebanding dengan pesatnya ekspansi output industri ("The Impact of Nickel Downstreaming Policy on the Transformation of the Economic Structure of Konawe Regency, Southeast Sulawesi", 2026). Konvergensi kedua kajian tersebut menggarisbawahi bahwa karakter industrialisasi berbasis hilirisasi yang padat modal secara struktural membatasi kapasitas inklusivitas pasar tenaga kerja daerah. Kesenjangan riset yang teridentifikasi terletak pada minimnya evaluasi komparatif mikro mengenai mekanisme transmisi keterampilan dan keterkaitan sektoral non-tambang di tingkat komunitas lokal. Selain itu, batasan analisis penelitian ini bertumpu pada penggunaan data agregat sekunder tingkat regional yang belum sepenuhnya merefleksikan heterogenitas kondisi demografi dan dinamika ketenagakerjaan informal di sekitar kawasan industri pemurnian. Oleh karena itu, penguatan tata kelola kelembagaan, diversifikasi industri hilir, dan program pengembangan kapasitas sumber daya manusia lokal mutlak diperlukan guna menjembatani disparitas struktural tersebut agar manfaat ekonomi dapat terdistribusi secara merata dan berkelanjutan.