Kerangka Konseptual Pengendalian Resistensi Antimikroba
Kerangka konseptual pengendalian resistensi antimikroba di fasilitas pelayanan kesehatan mengintegrasikan dinamika penularan infeksi nosokomial dengan tata kelola peresepan terapeutik. Secara teoritis, penyebaran galur patogen resisten di lingkungan rumah sakit berakar pada tekanan selektif penggunaan antimikroba yang luas serta kegagalan rantai pencegahan infeksi (Hospital-Acquired Infections and the Challenge of Antimicrobial Resistance, 2026). Meskipun mekanisme biologis resistensi bersifat universal, pendekatan analitis dalam merespons fenomena ini menunjukkan variasi perspektif teoretis. Pendekatan pencegahan transmisi nosokomial memosisikan kepatuhan pengendalian infeksi fisik sebagai pilar utama mitigasi (Hospital-Acquired Infections and the Challenge of Antimicrobial Resistance, 2026), sedangkan perspektif surveilans makro memprioritaskan standardisasi data mikrobiologi dan integrasi jejaring pelaporan terpusat di tingkat nasional (A national framework for an antimicrobial resistance surveillance system within Iranian healthcare facilities: Towards a global surveillance system, 2017). Sebaliknya, kajian pada lingkungan rumah sakit Indonesia lebih menitikberatkan intervensi rasionalisasi peresepan antibiotik melalui program penatagunaan antimikroba institusional (The Effort to Rationalize Antibiotic Use in Indonesian Hospitals: Practice and Its Implication, 2023). Sintesis teoretis ini menegaskan adanya perbedaan orientasi antara model surveilans struktural-nasional yang berfokus pada pelaporan epidemiologis (A national framework for an antimicrobial resistance surveillance system within Iranian healthcare facilities: Towards a global surveillance system, 2017) dan model penatagunaan klinis mikro yang memprioritaskan perubahan perilaku peresepan di tingkat praktisi (The Effort to Rationalize Antibiotic Use in Indonesian Hospitals: Practice and Its Implication, 2023).